Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, March 23, 2014

Sesal

“Loe bilang ‘tu cewek manis, baik, pintar, dan……

“Apa?  Loe mau mundur?” teriak Reza mendengar perkataan Reno.
“Loe bilang ‘tu cewek manis, baik, pintar, dan ..akhh pokoknya segudang deh pujian loe sama tuh cewek.” Lanjutnya lagi merasa aneh.
“Dia terlalu baik, terlalu sempurna buat gue.” jelas Reno yang sepertinya berat tuk mengucapkannya. Mata Reza menatap dalam ke arah Reno yang tertunduk lesu.
“Beberapa hari yang lalu loe ceria sekali kalau bercerita tentang dia. Kalau ke sini pasti yang loe ceritain hanya dia, bahkan yang loe obrolin sama dia semua pasti loe certain. Itukan tandanya kalo loe emang suka sama dia , ya kan,” lanjut Reza panjang.

Friday, February 22, 2013

Kasih Tak Sampai

“Sudah kupikirkan  kalau inilah jalan terbaik untuk kita....” 

Santai. Memang terkadang Willy memang suka bercanda yang aneh-aneh. Aku tak pernah menghiraukannya.
“Aku serius, Sar..! Sudah kupikirkan kalau inilah jalan terbaik untuk kita (PUTUS),” ujar Willy dengan mimik muka yang sangat serius.
Degg!! Aku terhenyak. Jadi, dia tidak bercanda.
“Pasti ada alasannya kan?”, tanyaku setelah kami terdiam cukup lama.
“Aku ingin belajar”, sahutnya dasar, tanpa menatapku.
“Huh, alasan klise !” 
‘Maksud kamu gara-gara hubungan kita ini, semuanya menyebabkan kamu tidak bisa belajar? Aku kan tidak pernah mengganggumu? Beri alasan yang lebih masuk akal dong!’ kataku emosi.
“Tapi memang

Friday, October 19, 2012

Kerinduan Yang Tak Tertahankan



“ya, hallo….Intan disini.”
“Hai kupikir kau tidur.” Terdengar tawanya yang lembut.
“Bagaimana, sehat-sehat aja kan?”
Ah, suara itu masih menggema dan kukenal dengan baik, “eh yach begitulah”

“Sekolahmu lancar?”
“Hei, aku bukan tukang bolos. You know it.”
“Aku percaya, yang kumaksud , apakah kau masih tetap bisa mengatur waktu antara istirahat dan sekolah? Lalu waktu makanmu? Kesehatanmu…”
“Memang makin berat. Kendati begitu kau toh tidak akan menganjurkanku untuk menyerah, bukan? Aku sudah setengah jalan, Dan.”
“Sabarlah. Masih sering

Monday, October 15, 2012

Malaikat Kecil


Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan Orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan manjadi headline hampir di semua surat kabar nasional yang telah terbit sekitar sebulan yang lalu. Tragedi itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburan ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.
Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakan betapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi